LAMPUNG SELATAN | Pojok30.id — Upaya menjaga warisan budaya Lampung tidak cukup hanya dilakukan melalui pertunjukan. Pengetahuan tentang seni tradisi perlu diwariskan secara langsung kepada generasi muda agar tidak kehilangan akar, makna, dan keasliannya.
Semangat itulah yang terlihat dalam kegiatan pelatihan Seni Khudat dan Tari Kenui Melayang yang diikuti 60 mahasiswi Program Studi Pendidikan Seni Tari Universitas Lampung (Unila) angkatan 2025 di kompleks Lamban Balak Keratuan Darah Putih, Desa Kuripan, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan, Minggu (4/10/2026).
Pemilihan Keratuan Darah Putih sebagai lokasi pelatihan bukan sekadar persoalan tempat. Kawasan tersebut memiliki keterkaitan kuat dengan sejarah dan perjalanan budaya masyarakat Lampung, termasuk jejak perjuangan Pahlawan Nasional Radin Inten II.
Di tempat yang sarat nilai sejarah itu, para mahasiswa tidak hanya belajar mengenai teknik gerak, ritme, dan pola penyajian seni. Mereka juga diajak memahami nilai filosofis, sejarah, serta pesan budaya yang melekat dalam Seni Khudat dan Tari Kenui Melayang.
Pembelajaran langsung dari lingkungan budaya asal dinilai penting agar seni tradisi tidak berhenti sebagai materi akademik di ruang kelas. Para mahasiswa diharapkan mampu memahami bahwa setiap gerakan dan bentuk kesenian memiliki konteks sejarah serta nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Perwakilan Keratuan Darah Putih, Yogha Pramana, yang menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut, menyampaikan salam hangat dari Dunungan Kepala Kehadatan Keratuan Darah Putih, Gusti Putra Aji (Raden Imba Kesuma Ratu V), yang pada saat kegiatan berlangsung tidak berada di Lamban Balak.
Yogha mengapresiasi antusiasme para mahasiswa Unila yang datang langsung untuk mempelajari kesenian tradisional Lampung.
«“Kami menyampaikan rasa syukur yang mendalam dan terima kasih yang sebesar-besarnya atas minat serta kepedulian yang luar biasa dari adik-adik mahasiswi Pendidikan Seni Tari Unila angkatan 2025. Keterlibatan aktif para calon pendidik dan praktisi seni ini adalah garansi bahwa seni tradisi kita berada di tangan yang tepat,” ujar Yogha di lokasi kegiatan.»
Menurutnya, keterlibatan generasi muda, khususnya mahasiswa yang kelak terjun ke dunia pendidikan dan seni, memiliki arti strategis dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan Lampung.
Sebab, tantangan pelestarian budaya saat ini bukan hanya bagaimana mempertahankan sebuah kesenian agar tetap dipentaskan, tetapi juga memastikan pengetahuan, nilai, filosofi, dan keaslian tradisi tersebut tetap dipahami oleh generasi berikutnya.
Yogha menegaskan, kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di lingkungan Keratuan Darah Putih merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari identitas masyarakat Lampung.
«“Seni Khudat dan Tari Kenui Melayang bukan sekadar peninggalan sejarah masa lalu, melainkan sebuah Lampung treasure—harta karun kebudayaan yang bernilai tinggi, terus hidup, dan harus kita jaga bersama marwah serta keasliannya,” katanya.»
Bukan Sekadar Belajar Gerak
Pelatihan yang berlangsung di lingkungan Lamban Balak memberikan pengalaman berbeda bagi para mahasiswa. Mereka berhadapan langsung dengan sumber pengetahuan budaya, bukan hanya mempelajari kesenian melalui buku, video, atau materi perkuliahan.
Pendekatan semacam ini menjadi penting di tengah perubahan zaman yang membuat kesenian tradisional menghadapi tantangan regenerasi. Ketika sebuah kesenian hanya dikenal sebagai bentuk pertunjukan tanpa pemahaman mengenai asal-usul dan nilai yang dikandungnya, risiko terjadinya perubahan makna maupun hilangnya identitas budaya menjadi semakin besar.
Karena itu, proses pewarisan budaya melalui pertemuan langsung antara pelaku atau keluarga adat dengan generasi muda menjadi salah satu cara untuk menjaga kesinambungan tradisi.
Bagi mahasiswa Pendidikan Seni Tari, pengalaman tersebut juga dapat menjadi bekal ketika nantinya mereka menjadi pendidik, pelaku seni, maupun penggerak kebudayaan di tengah masyarakat.
Mereka tidak hanya dituntut mampu mengajarkan teknik tari, tetapi juga memahami mengapa sebuah kesenian lahir, nilai apa yang dibawanya, serta bagaimana menjaga agar perkembangannya tidak menghilangkan identitas aslinya.
Keratuan Darah Putih Jadi Ruang Belajar Budaya
Kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa situs dan lingkungan bersejarah dapat berfungsi lebih luas sebagai ruang edukasi budaya.
Lamban Balak Keratuan Darah Putih tidak hanya memiliki nilai sejarah sebagai bagian dari perjalanan masyarakat Lampung Selatan, tetapi juga dapat menjadi ruang bertemunya generasi muda dengan warisan budaya yang selama ini hidup di tengah masyarakat.
Melalui kegiatan seperti ini, pelestarian budaya tidak lagi ditempatkan sebagai tanggung jawab satu pihak. Perguruan tinggi, keluarga adat, pelaku seni, pemerintah, komunitas, dan generasi muda memiliki peran yang saling melengkapi.
Perguruan tinggi dapat menghadirkan pendekatan akademis dan dokumentasi, sementara lingkungan adat memiliki pengetahuan serta pengalaman mengenai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Pertemuan keduanya menjadi penting agar budaya Lampung tidak hanya dikenang sebagai sejarah, tetapi tetap hidup, dipelajari, dipraktikkan, dan diwariskan.
Pelatihan Seni Khudat dan Tari Kenui Melayang bagi 60 mahasiswi Unila tersebut pada akhirnya bukan sekadar agenda pembelajaran seni.
Lebih jauh, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memastikan warisan budaya Lampung memiliki generasi penerus yang memahami akar sejarahnya, menghargai nilai yang terkandung di dalamnya, sekaligus memiliki tanggung jawab untuk menjaga marwah dan keaslian budaya Lampung di tengah perubahan zaman.(A.Muli)












