LAMPUNG SELATAN –Pojok30.id | Di tengah derasnya arus informasi digital yang semakin sulit dibendung, kemampuan membedakan berita benar dan informasi palsu menjadi kebutuhan penting bagi generasi muda.
Persoalan inilah yang menjadi perhatian Pengurus Daerah Ikatan Wartawan Online (PD IWO) Kabupaten Lampung Selatan melalui program Sekolah Jurnalis Ikatan Wartawan Online (SEJIWO).
Program tersebut kembali digelar dengan menyasar dunia pendidikan. Kali ini, puluhan pelajar SMA Negeri 1 Palas, Desa Palas Aji, Kabupaten Lampung Selatan, mendapat pembekalan jurnalistik dan literasi media, Senin (5/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di aula SMAN 1 Palas itu diikuti siswa dari berbagai unsur, mulai anggota OSIS, ekstrakurikuler jurnalistik hingga perwakilan kelas.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua PD IWO Lampung Selatan Sior Aka Prayudi, Kepala SMAN 1 Palas Sudiman, S.Pd., pemateri Yoan Doni, serta Agus Nadi sebagai moderator.
Bukan Mencetak Wartawan, tetapi Mencetak Pelajar Melek Informasi
Ketua PD IWO Lampung Selatan Sior Aka Prayudi menegaskan, SEJIWO tidak semata-mata diarahkan untuk mencetak calon wartawan dari kalangan pelajar.
Lebih jauh, program tersebut menjadi bagian dari upaya membangun budaya literasi media agar generasi muda tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi mampu bersikap kritis terhadap setiap informasi yang diterima dan dibagikan.
«“SEJIWO ini adalah Sekolah Jurnalis Ikatan Wartawan Online. Tujuannya bukan untuk menjadikan semua siswa menjadi wartawan, tetapi untuk menjadikan pelajar sebagai pengguna media sosial yang cerdas, kritis, dan tidak mudah termakan hoaks,” ujar Sior Aka Prayudi.»
Menurutnya, perkembangan teknologi telah membuat batas antara pembuat dan penerima informasi semakin tipis.
Setiap orang yang memiliki telepon pintar dan akses internet dapat memproduksi sekaligus menyebarkan informasi. Persoalannya, tidak semua informasi yang beredar telah melalui proses verifikasi.
Karena itu, kata Sior, pemahaman mengenai etika bermedia menjadi sangat penting.
«Di era digital ini, semua orang bisa menjadi penyebar informasi, maka harus dibekali dengan etika,” tegasnya.»
Sior juga menempatkan kegiatan SEJIWO Goes To School sebagai bentuk pengabdian organisasi profesi wartawan kepada masyarakat, khususnya dunia pendidikan.
IWO, lanjutnya, ingin hadir sebagai mitra sekolah dalam membangun kesadaran siswa mengenai bahaya berita bohong, ujaran kebencian, informasi provokatif hingga kebiasaan menyebarkan informasi tanpa melakukan pemeriksaan terlebih dahulu.
Pelajar Berada di Garis Depan Arus Informasi
Kepala SMAN 1 Palas Sudiman, S.Pd., menyambut positif pelaksanaan SEJIWO di sekolah yang dipimpinnya.
Ia menilai materi jurnalistik dan literasi media sangat relevan dengan kehidupan pelajar saat ini.
«“Kami atas nama keluarga besar SMAN 1 Palas mengucapkan terima kasih banyak kepada PD IWO Lampung Selatan, khususnya kepada Ketua Sior Aka Prayudi yang telah berkenan hadir dan berbagi ilmu di sekolah kami,” ungkap Sudiman.»
Menurutnya, pengetahuan mengenai jurnalistik bukan hanya bermanfaat bagi siswa yang berminat menjadi wartawan atau bergabung dalam kegiatan jurnalistik sekolah.
Lebih dari itu, pemahaman tersebut dapat menjadi filter ketika siswa menerima informasi melalui media sosial.
Pasalnya, pelajar saat ini hidup di tengah banjir informasi. Berita, video, potongan pernyataan, foto hingga konten yang belum jelas kebenarannya dapat beredar hanya dalam hitungan detik.
Tanpa kemampuan memilah informasi, siswa berpotensi menjadi korban hoaks sekaligus tanpa sadar ikut menjadi penyebarnya.
«“Kami berharap setelah mengikuti SEJIWO ini, anak-anak kami lebih bijak dalam menggunakan media sosial, tahu cara membedakan fakta dan opini, serta bisa menulis dengan baik dan benar sesuai kaidah jurnalistik,” kata Sudiman.»
Ia juga berharap kemampuan tersebut dapat menjadi bekal tambahan bagi siswa dalam mengembangkan keterampilan menulis.
Dari 5W+1H hingga Cara Membongkar Hoaks
Memasuki sesi utama, wartawan senior Lampung Selatan Yoan Doni memberikan materi jurnalistik dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kehidupan sehari-hari pelajar.
Materi tidak hanya membahas bagaimana sebuah berita ditulis, tetapi juga bagaimana seseorang harus bersikap sebelum mempercayai dan menyebarkan informasi.
Sejumlah materi yang diberikan meliputi dasar-dasar jurnalistik, unsur 5W+1H, konsep piramida terbalik, teknik penulisan berita, etika jurnalistik, pentingnya verifikasi informasi, hingga pemahaman mengenai aturan yang berkaitan dengan aktivitas di ruang digital.
Peserta juga dibekali teknik menulis kreatif dan pembuatan press release, sehingga siswa memiliki kemampuan dasar untuk menyampaikan informasi secara terstruktur dan menarik.
Yang tidak kalah penting, Yoan memberikan contoh berbagai bentuk informasi palsu yang kerap muncul di media sosial dan lingkungan pelajar.
Dari contoh tersebut, siswa diajak memahami bahwa sebuah informasi tidak boleh langsung dipercaya hanya karena dikirim oleh teman, muncul di grup WhatsApp, atau memiliki judul yang terlihat meyakinkan.
«“Menjadi wartawan itu keren, tapi menjadi pembaca yang cerdas itu jauh lebih keren. Sebelum kalian share informasi di grup WA, tanya dulu: ini benar tidak? Sumbernya siapa? Kalau tidak jelas, jangan di-share,” ujar Yoan.»
Pesan tersebut menjadi salah satu poin penting dalam kegiatan SEJIWO, yakni membangun kebiasaan berhenti sejenak sebelum membagikan informasi.
Sebab, satu kali klik tombol share dapat membuat sebuah informasi menyebar ke ratusan bahkan ribuan orang dalam waktu singkat.
Siswa Mulai Bertanya soal Profesi Wartawan hingga Monetisasi Media Sosial
Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi dan tanya jawab.
Sejumlah siswa tidak hanya bertanya mengenai teknik menulis berita, tetapi juga menggali pengalaman di lapangan, termasuk bagaimana proses seseorang menjadi wartawan, menghadapi tantangan ketika melakukan peliputan hingga bagaimana menjaga sikap ketika menghadapi tekanan.
Pertanyaan lain juga berkembang ke persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka, yakni bagaimana mengelola media sosial agar dapat memberikan manfaat dan menghasilkan sesuatu secara positif.
Moderator Agus Nadi mampu menghidupkan diskusi dengan gaya komunikasi yang santai dan edukatif.
Suasana tersebut membuat pembahasan jurnalistik tidak terasa kaku. Siswa diberi ruang untuk menyampaikan rasa ingin tahu sekaligus berdiskusi mengenai fenomena yang mereka temui sehari-hari di dunia digital.
IWO Dorong Gerakan Literasi Media Masuk Lebih Banyak Sekolah
Pelaksanaan SEJIWO di SMAN 1 Palas menunjukkan bahwa literasi media tidak lagi dapat dipandang sebagai isu eksklusif dunia jurnalistik.
Di tengah masifnya penggunaan media sosial, kemampuan memeriksa sumber, memahami konteks, membedakan fakta dan opini serta menahan diri untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi merupakan bagian penting dari kecakapan generasi digital.
Karena itu, PD IWO Lampung Selatan di bawah kepemimpinan Sior Aka Prayudi berkomitmen mendorong keberlanjutan program tersebut dengan membangun sinergi bersama sekolah dan pemangku kepentingan pendidikan di Lampung Selatan.
Target akhirnya bukan sekadar melahirkan siswa yang mampu menulis berita.
Lebih jauh, SEJIWO diharapkan mampu membentuk generasi yang melek media, kritis terhadap informasi, kreatif dalam berkarya, sekaligus bertanggung jawab ketika menggunakan ruang digital.
Kegiatan di SMAN 1 Palas kemudian ditutup dengan foto bersama antara jajaran PD IWO Lampung Selatan, pihak sekolah, pemateri, moderator dan para peserta.
Bagi IWO Lampung Selatan, ruang kelas menjadi titik penting untuk memulai perang terhadap hoaks. Sebab, melawan banjir informasi palsu tidak cukup hanya dengan melakukan klarifikasi setelah hoaks menyebar.
Yang jauh lebih penting adalah membangun generasi yang sejak awal memiliki kemampuan untuk mempertanyakan, memeriksa, dan memastikan kebenaran sebuah informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.
(A.Muli)












