LAMPUNG SELATAN || Pojok30.id || Upaya membangun kemandirian dan keterampilan hidup bagi klien rehabilitasi terus dilakukan Loka Rehabilitasi Narkotika BNN Kalianda, Lampung Selatan. Salah satunya melalui kegiatan Pelatihan Pembuatan Tukkus Lampung dan Motivasi yang digelar dalam rangkaian program Terapi Keterampilan Hidup Dasar bagi klien rehabilitasi, Kamis (23/7/2026).
Kegiatan tersebut tidak sekadar diarahkan untuk memberikan aktivitas keterampilan kepada para klien selama menjalani proses rehabilitasi. Lebih jauh, pelatihan ini menjadi bagian dari upaya mempersiapkan mereka agar memiliki bekal produktif ketika nantinya kembali ke tengah keluarga dan masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, Khaja Muda hadir sebagai narasumber untuk memberikan pengetahuan dan pengalaman mengenai pembuatan Tukkus Lampung, salah satu kerajinan yang memiliki nilai budaya sekaligus potensi ekonomi.
Perwakilan panitia, Bagus Prasetio, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Khaja Muda yang telah bersedia berbagi ilmu dan pengalaman kepada para klien rehabilitasi.”
Atas nama panitia, saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Khaja Muda yang telah menjadi narasumber pada kegiatan Pelatihan Pembuatan Tukkus Lampung dalam program Terapi Keterampilan Hidup Dasar bagi klien rehabilitasi di Loka Rehabilitasi Narkotika Kalianda. Semoga ilmu dan pengalaman yang diberikan dapat bermanfaat bagi seluruh klien,” ujar Bagus.
Menurutnya, pemilihan Tukkus Lampung sebagai materi pelatihan bukan tanpa alasan. Kerajinan tersebut dinilai memiliki keterkaitan erat dengan identitas budaya Lampung sekaligus membuka peluang untuk dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi produktif.”
Tukkus Lampung kami pilih karena merupakan kerajinan khas Lampung yang memiliki nilai budaya dan juga nilai jual. Harapannya, keterampilan ini dapat menjadi bekal bagi klien setelah menyelesaikan rehabilitasi, baik untuk membuka usaha sendiri maupun sebagai tambahan penghasilan,” katanya.
Keterampilan sebagai Bekal Kembali ke Masyarakat
Pelatihan keterampilan bagi klien rehabilitasi memiliki makna penting dalam proses pemulihan. Rehabilitasi tidak hanya berorientasi pada pemulihan kondisi individu, tetapi juga perlu diikuti dengan penguatan kemampuan agar mereka dapat kembali menjalani kehidupan sosial secara produktif.
Dalam konteks tersebut, keterampilan membuat kerajinan Tukkus Lampung menjadi salah satu alternatif yang dapat dikembangkan. Selain mengenalkan kembali kekayaan budaya lokal, pelatihan ini membuka ruang bagi para klien untuk belajar menghasilkan produk yang berpotensi memiliki nilai ekonomi.
Namun, untuk mencapai hasil yang optimal, pelatihan semacam ini membutuhkan proses yang berkelanjutan. Kemampuan membuat sebuah produk kerajinan tidak cukup hanya diperoleh melalui satu kali pertemuan. Diperlukan waktu, pendampingan, praktik berulang, serta kesempatan untuk mengembangkan kreativitas agar peserta benar-benar menguasai keterampilan tersebut.
Karena itu, Bagus berharap program pelatihan keterampilan serupa dapat terus dilaksanakan dengan durasi yang lebih panjang dan pendampingan yang berkesinambungan.
“Harapannya, kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan dengan waktu yang lebih panjang, sehingga para klien memiliki kesempatan lebih banyak untuk belajar dan mengasah keterampilan membuat Tukkus Lampung sampai benar-benar mahir,” ungkapnya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat memberikan dampak positif bagi para klien yang sedang menjalani proses rehabilitasi sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Lampung Selatan.
“Semoga dari pelatihan ini membawa dampak baik untuk kawan-kawan yang sedang menjalani rehabilitasi dan menjadi kebaikan untuk Lampung Selatan,” tuturnya.
Dari Rehabilitasi Menuju Kemandirian
Pelatihan Tukkus Lampung memperlihatkan bahwa proses rehabilitasi dapat diperkuat melalui pendekatan yang menyentuh aspek keterampilan, produktivitas, dan pemberdayaan. Bekal keterampilan yang diperoleh diharapkan mampu menjadi modal awal bagi klien untuk membangun kehidupan yang lebih mandiri setelah menyelesaikan program rehabilitasi.
Di sisi lain, pengenalan kerajinan khas daerah kepada generasi dan masyarakat yang sedang menjalani proses pemulihan juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan budaya lokal. Dengan demikian, rehabilitasi dan pelestarian budaya dapat berjalan beriringan melalui kegiatan yang produktif dan memiliki nilai manfaat.
Semangat tersebut kemudian ditutup dengan pesan bersama untuk membangun kehidupan yang lebih sehat dan menjauhi berbagai bentuk perilaku yang merusak masa depan.
“Mari kita sehat. Mari anti narkoba dan anti judol.
“Pesan itu menjadi penegasan bahwa proses pemulihan bukan hanya tentang meninggalkan masa lalu, tetapi juga tentang membangun masa depan melalui keterampilan, kreativitas, produktivitas, dan keberanian untuk kembali berkontribusi di tengah masyarakat. (A.Muli)












