PALAS, LAMPUNG SELATAN || Pojok30.id || Dinamika Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Desa Bangunan, Kecamatan Palas, mulai menjadi sorotan publik. Hingga saat ini, panitia pendaftaran calon kepala desa mencatat baru satu orang yang resmi mendaftarkan diri, yakni Dewi Puji Wahyuni, S.Sos, warga Dusun 07 Desa Bangunan.(4/9/2026)
Minimnya jumlah pendaftar memunculkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat. Salah satu yang paling banyak dibicarakan adalah apakah kondisi tersebut berkaitan dengan berkurangnya anggaran desa, khususnya Alokasi Dana Desa (ADD), yang selama ini menjadi salah satu sumber pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan desa.
Sejumlah warga menilai, jabatan kepala desa saat ini tidak lagi dipandang semata sebagai posisi strategis yang memiliki kewenangan besar dalam pembangunan desa. Di sisi lain, tanggung jawab administrasi yang semakin kompleks, pengawasan yang ketat, serta risiko hukum dalam pengelolaan keuangan desa membuat sebagian masyarakat berpikir ulang untuk maju sebagai calon kepala desa.
“Sekarang menjadi kepala desa tantangannya jauh lebih berat. Administrasi harus rapi, pengawasan ketat, sementara masyarakat juga menuntut pembangunan yang cepat,” ujar salah seorang tokoh masyarakat yang enggan disebutkan namanya.
Selain faktor beban tanggung jawab, isu efisiensi anggaran yang terjadi di berbagai tingkatan pemerintahan juga disebut-sebut memengaruhi minat masyarakat untuk maju dalam kontestasi Pilkades. Meski demikian, belum ada keterangan resmi yang menyatakan bahwa minimnya calon di Desa Bangunan secara langsung disebabkan oleh pemotongan ADD.
Pengamat pemerintahan desa menilai rendahnya jumlah calon kepala desa tidak selalu berkaitan dengan anggaran. Faktor sosial, budaya politik lokal, hingga kepercayaan masyarakat terhadap figur tertentu juga dapat menjadi penyebab munculnya calon tunggal.
Di Kabupaten Lampung Selatan sendiri, pelaksanaan Pilkades masih menjadi bagian penting dalam proses demokrasi tingkat desa. Pemerintah daerah sebelumnya telah mempersiapkan berbagai skema pelaksanaan Pilkades di sejumlah desa yang masa jabatan kepala desanya berakhir.
Sementara itu, masyarakat Desa Bangunan masih menunggu hingga batas akhir pendaftaran untuk melihat apakah akan muncul calon lain yang ikut meramaikan kontestasi. Jika tidak ada tambahan pendaftar, maka Pilkades Desa Bangunan berpotensi menjadi salah satu pemilihan dengan jumlah calon paling minim di Kecamatan Palas tahun ini.
Kini pertanyaannya, apakah sepinya peminat menjadi kepala desa merupakan sinyal menurunnya daya tarik jabatan tersebut, atau justru menunjukkan masyarakat telah memiliki figur yang dianggap layak memimpin sehingga kompetisi tidak lagi menjadi prioritas?
Waktu yang akan menjawab.
(A.Muli)












