Momentum HAN 23 Juli Bukan Sekadar Seremoni, Perkuat Komitmen Lindungi Anak dari Kekerasan dan Perundungan
PALAS, LAMPUNG SELATAN // Pojok30.id// Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) yang diperingati setiap 23 Juli kembali menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen bersama dalam melindungi dan memenuhi hak-hak anak. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, anak-anak membutuhkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan mampu mendorong mereka tumbuh menjadi generasi yang berkarakter serta berdaya saing.
Pesan tersebut menjadi perhatian Kepala SMP PGRI 1 Palas, Lampung Selatan, Gumilang Hadi, S.Kom. Menurutnya, Hari Anak Nasional tidak seharusnya dimaknai sebatas agenda seremonial tahunan, melainkan menjadi momentum untuk melakukan refleksi sekaligus memperkuat langkah nyata dalam memastikan setiap anak memperoleh hak atas pendidikan dan perlindungan.
Gumilang menegaskan, sekolah memiliki posisi strategis dalam membentuk masa depan anak. Karena itu, sekolah harus mampu menghadirkan lingkungan yang aman, ramah, dan bebas dari berbagai bentuk kekerasan maupun perundungan.«
“Hari Anak Nasional menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen kita bersama dalam memberikan perlindungan, pendidikan, dan lingkungan yang aman bagi anak. Sekolah memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan setiap anak mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, berprestasi, dan meraih masa depan yang lebih baik,” tegas Gumilang Hadi.»
Menurutnya, anak-anak bukan hanya objek dalam proses pendidikan. Mereka adalah generasi penerus yang memiliki potensi besar untuk menentukan arah masa depan bangsa. Oleh karena itu, pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga harus membangun karakter, akhlak, kedisiplinan, kepedulian sosial, serta kemampuan menghadapi perubahan zaman.
Di sinilah peran sekolah menjadi sangat penting.
Sekolah harus menjadi tempat yang memberikan rasa aman bagi peserta didik. Setiap anak harus merasa dihargai, didengar, dan diberikan kesempatan untuk berkembang sesuai dengan bakat serta potensinya.
Gumilang menilai, persoalan kekerasan terhadap anak dan perundungan atau bullying tidak dapat dipandang sebelah mata. Dampaknya dapat memengaruhi rasa percaya diri dan perkembangan anak. Karena itu, pencegahan harus dilakukan secara bersama-sama dan berkelanjutan.
«“Anak-anak harus mendapatkan haknya untuk belajar, bermain, berekspresi, dan berkembang dalam lingkungan yang sehat serta bebas dari kekerasan dan perundungan. Kita harus membangun budaya sekolah yang ramah anak dan menjadikan pendidikan sebagai ruang tumbuh yang positif,” ujarnya.»
SINERGI SEKOLAH, ORANG TUA, DAN MASYARAKAT
Lebih jauh, Gumilang menegaskan bahwa perlindungan anak bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Orang tua, keluarga, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan memiliki peran yang sama pentingnya.
Menurutnya, pendidikan yang baik akan sulit diwujudkan tanpa adanya sinergi antara lingkungan sekolah dan keluarga. Anak membutuhkan pendampingan yang konsisten, baik ketika berada di sekolah maupun saat berada di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Guru juga dituntut tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi sekaligus menjadi pendamping dan teladan bagi peserta didik. Pendekatan yang humanis dan penuh kepedulian diyakini mampu menciptakan hubungan positif antara guru dan siswa.
Di sisi lain, perkembangan teknologi juga menjadi tantangan tersendiri. Anak-anak saat ini tumbuh di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan media digital. Kondisi tersebut menuntut sekolah dan orang tua untuk meningkatkan literasi digital sekaligus memberikan pendampingan agar anak mampu menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.
HAN 2026 pun menjadi pengingat bahwa membangun generasi unggul tidak dapat dilakukan secara instan. Masa depan anak ditentukan oleh bagaimana lingkungan di sekitarnya memberikan pendidikan, perlindungan, perhatian, dan kesempatan untuk berkembang sejak dini.
Karena itu, momentum Hari Anak Nasional harus menjadi panggilan bagi semua pihak untuk bergerak bersama.
Bukan hanya memperingati anak, tetapi memastikan anak-anak benar-benar mendapatkan haknya.
Bukan hanya berbicara tentang masa depan, tetapi mulai mempersiapkannya sejak hari ini.
«“Mari kita bersama-sama menjaga, mendidik, dan memberikan ruang terbaik bagi anak-anak kita. Mereka adalah generasi penerus bangsa. Apa yang kita tanamkan kepada mereka hari ini akan menentukan wajah bangsa Indonesia di masa depan,” pungkas Gumilang Hadi.»
Peringatan Hari Anak Nasional 2026 akhirnya menjadi momentum untuk kembali meneguhkan satu pesan penting: anak-anak bukan sekadar generasi penerus, tetapi generasi yang sedang tumbuh dan harus dilindungi hari ini.
Dengan pendidikan yang berkualitas, lingkungan yang aman, serta kepedulian bersama, diharapkan lahir generasi Lampung Selatan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat dalam karakter, berakhlak, berprestasi, dan siap menghadapi masa depan. (A.Muli)












