KAPUAS HULU,KALBAR – Pembangunan Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Nanga Dua, Kecamatan Bunut Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, mendapat sorotan dari masyarakat. Warga mempertanyakan kesesuaian material yang digunakan dalam proyek tersebut dengan spesifikasi teknis dan Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang beredar di lapangan.
Sorotan muncul setelah masyarakat menemukan adanya perbedaan antara material yang tercantum dalam dokumen teknis dengan kondisi bangunan yang sedang dikerjakan.

Dalam gambar bestek dan spesifikasi pekerjaan, sejumlah komponen utama bangunan disebut menggunakan kayu kelas I atau kayu Belian, mulai dari tiang bangunan ukuran 8×8 sentimeter, balok gelagar induk, pondasi, hingga alas dan laci bangunan.

Namun, warga menilai material kayu yang digunakan di lapangan diduga tidak sesuai dengan kualitas yang tercantum dalam dokumen proyek.
“Di dalam RAB dan gambar kerja jelas mengutamakan kayu kelas I atau Belian. Tapi kenyataan yang dilihat masyarakat di lapangan diduga berbeda. Ini yang menjadi pertanyaan warga,” ujar Sumardi, salah seorang warga setempat.
Menurutnya, penggunaan material yang tidak sesuai spesifikasi berpotensi memengaruhi kualitas dan daya tahan bangunan, terutama mengingat kondisi geografis Kapuas Hulu yang memiliki tingkat kelembapan tinggi.
“Kalau ini program pemerintah yang menyangkut kepentingan masyarakat dan program nasional, kualitas material harus benar-benar diperhatikan. Jangan sampai pekerjaan terkesan asal jadi,” tegasnya.
Menanggapi tudingan tersebut, pelaksana pembangunan, Eko, membantah bahwa proyek dikerjakan tidak sesuai ketentuan. Ia menegaskan pembangunan dapur MBG tetap mengacu pada spesifikasi dan luasan bangunan yang ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
“Kita bangun dapur MBG ini sesuai spesifikasi dan luasan yang diminta BGN pusat,” kata Eko, Selasa (26/5/2026).
Ia menjelaskan bahwa BGN tidak mengatur secara rinci jenis material tertentu yang harus digunakan dalam pembangunan. Menurutnya, konstruksi bangunan tetap mengedepankan kekuatan struktur dengan kombinasi beton dan kayu.
“Terkait kayu dan bahan lain dalam pembangunan tersebut tidak diatur langsung oleh BGN. Bahkan pembangunan dapur MBG kami juga menggunakan beton,” ujarnya.
Saat ini pembangunan dapur MBG tersebut masih berlangsung dan telah memasuki tahap akhir pengerjaan. Pihak pelaksana menyebut progres pekerjaan telah mencapai sekitar 90 persen.
“Sekarang masih tahap finishing seperti tangga dan instalasi listrik,” kata Eko.
Masyarakat berharap Badan Gizi Nasional maupun instansi teknis terkait turun langsung melakukan pemeriksaan terhadap kualitas material dan kesesuaian pekerjaan dengan kontrak serta spesifikasi teknis yang telah ditetapkan, guna memastikan bangunan yang dibangun dengan anggaran negara benar-benar memenuhi standar mutu yang dipersyaratkan. (Dede /Lai)












